Wednesday, January 19, 2022

Bab 15 Novel Twilight – Fenomena - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 15 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Fenomena Bab 15

"Cullen? Aku tidak melihatnya... wow, kurasa semuanya berlangsung cepat sekali. Apa dia baik-baik saja?" "Kurasa begitu. Dia ada di sini entah di mana, tapi mereka tidak mengangkutnya dengan tandu." Aku tahu aku tidak sinting.

Apa yang terjadi?

Novel Twilight

Tak ada yang bisa menjelaskan apa yang telah kusaksikan. Lalu mereka mendorongku pergi dengan kursi roda untuk merontgen kepalaku. Kukatakan pada mereka aku baik-baik saja, dan aku benar. Aku bahkan tidak mengalami gegar otak.

Aku bertanya apa aku bisa pergi, tapi juru rawat bilang aku harus bicara dulu dengan dokter. Jadi, aku terperangkap di UGD, menunggu, terganggu dengan Tyler yang terus-menerus meminta maaf dan berjanji akan melakukan apa saja untukku.

Tak peduli berapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja, ia terus saja menyiksa dirinya sendiri. Akhirnya kupejamkan mataku dan mengabaikannya. Ia terus menggumamkan penyesalan.

"Apa dia tidur?" aku mendengar suara yang merdu bertanya. Mataku langsung terbuka.

Edward berdiri di ujung tempat tidurku, nyengir. Aku memandangnya. Tidak mudah—akan lebih wajar jika aku mengerling padanya.

"Hei, Edward, aku sangat menyesal—" Tyler memulai. Edward mengangkat tangan untuk menghentikannya. "Tidak ada darah, tidak seru," katanya, memamerkan giginya yang sempurna. Ia beranjak dan duduk di ujung tempat tidur Tyler, namun menghadap ke arahku. Ia nyengir lagi.

"Jadi, apa kata mereka?" ia bertanya padaku.

"Aku baik-baik saja, tapi mereka tidak mengizinkanku

Pergi," aku mengeluh. "Bagaimana kau bisa tidak ditandu seperti kami?"

"Itu cuma soal siapa yang kaukenal," jawabnya. 

"Tapi jangan khawatir, aku datang untuk menyelamatkanmu." Lalu seorang dokter menghampiri, dan mulutku menganga melihatnya. 

Ia masih muda, pirang... dan lebih tampan daripada bintang film mana pun yang pernah kulihat. begitu ia pucat, tampak lelah, dengan lingkaran di bawah matanya. Dari apa yang dideskripsikan Charlie, ini pasti ayah Edward.

"Jadi, Miss Swan," dr. Cullen berkata dengan suara sangat merdu, "bagaimana perasaanmu?” "Aku baik-baik saja," kataku, mudah-mudahan untuk terakhir kali.

Ia berjalan ke papan pembaca foto rontgen di dinding di atas kepalaku, dan menyalakannya.

"Hasil rontgenmu bagus," katanya. "Apa kepalamu sakit?

Kata Edward, kepalamu terbentur cukup keras." "Tidak apa-apa," aku mengulangi sambil menghela napas, lalu menatap Edward geram. Jemari dokter yang dingin meraba ringan tulang tengkorakku. Ia memerhatikan ketika aku meringis. "Sakit?" tanyanya.

"Tidak juga." Aku pernah mengalami yang lebih parah. Aku mendengar suara tawa, dan melihat Edward tersenyum meremehkan. Mataku menyipit.

"Well, ayahmu ada di ruang tunggu—kau bisa pulang dengannya sekarang. Tapi kembalilah kalau kau merasa pusing atau mengalami masalah sekecil apa pun dengan penglihatanmu

"Bisakah aku kembali ke sekolah?" tanyaku, membayangkan Charlie bakal kelewat perhatian padaku.

“Mungkin sebaiknya kau beristirahat hari ini." Aku menatap Edward. "Apakah dia boleh pergi ke sekolah?”

"Harus ada yang menyebarkan kabar gembira bahwa kita selamat," kata Edward pongah.

"Sebenarnya," dr. Cullen meralat, "sepertinya seluruh penghuni sekolah ada di ruang tunggu saat ini."

"Oh tidak," erangku, menutupi wajahku dengan tangan.

Alis dr. Cullen terangkat. "Kau mau tinggal di sini?" "Tidak, tidak!" aku berkeras, menurunkan kakiku ke sisi tempat tidur dan langsung melompat. Terlalu cepat—aku terpeleset, dan dr. Cullen menangkapku. Ia tampak waswas.

"Aku baik-baik saja," aku meyakinkannya lagi.

Tak perlu memberitahunya bahwa keseimbanganku tak ada hubungannya dengan kepalaku yang terbentur. "Minum Tyfenol untuk mengurangi rasa sakitnya," ia memberiku saran sambil memegangiku.

"Sakitnya tidak separah itu kok," aku berkeras. "Kedengarannya kau sangat beruntung" kata dr. Cullen, tersenyum sambil menandatangani statusku dengan gerakan berlebihan.

"Aku beruntung karena Edward kebetulan ada di sebelahku," aku menekankan ucapanku dengan menatap Edward lekat-lekat.

"Oh, Well, ya," ujar dr. Cullen, tiba-tiba menyibukkan diri dengan kertas di depannya. Lalu ia berpaling memandang Tyler, dan menghampiri tempat tidur sebelah. Intuisiku tepat, sang dokter sedang memikirkannya.

"Aku khawatir kau harus tinggal bersama kami lebih lama,” ia berkata kepada Tyler, dan mulai memeriksa lukalukanya.

Begitu dokter memunggungiku. aku bergeser ke sisi Edward.

"Bisakah aku bicara denganmu sebentar?" aku berbisik. Ia mundur selangkah, rahangnya sekonyong-konyong mengeras.

"Ayahmu sudah menunggumu," katanya sepelan mungkin

Aku memandang dr. Cullen dan Tyler.

"Aku ingin bicara berdua saja denganmu, kalau kau tidak keberatan," desakku.

Ia menatapku jengkel, lalu berbalik dan berjalan menyusuri ruang panjang itu. Aku nyaris berlari agar bisa mengejarnya. Begitu kami berbelok di sudut menuju lorong pendek, ia berbalik menghadapku.

"Kau mau apa sih?" tanyanya jengkel. Tatapannya dingin.

Sikapnya yang tak bersahabat mengintimidasiku. Katakataku mengalir tak seketus yang kuinginkan. "Kau berutang penjelasan padaku," aku mengingatkannya. 

"Aku menyelamatkan hidupmu—aku tidak berutang apaapa padamu." Aku tersentak mendengar amarah dalam suaranya. "Kau sudah janji."

"Bella, kepalamu terbentur, kau tak tahu apa yang kaubicarakan." Nada suaranya tajam.

Emosiku meluap-luap sekarang, kutatap dia tajam-tajam.

"Tak ada yang salah dengan kepalaku."

Ia balas menantang, "Apa yang kau mau dariku, Bella?" "Aku mau tahu yang sebenarnya," kataku. "Aku mau tahu kenapa aku berbohong untukmu." "Apa menurutmu yang terjadi?" sergah Edward.

Penutup Novel Twilight – Fenomena Bab 15

Gimana Novel twilight – Fenomena Bab 15 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

Selanjutnya
Sebelumnya