Wednesday, January 19, 2022

Bab 13 Novel Twilight – Fenomena - Baca Di Sini

Novel Twilight, ditulis oleh Stepheni Meyer. Novel ini ini terdiri dari 5 seri yaitu Twilight, Newmoon, Midnight sun, Eclipse dan Breaking Dawn.

Dalam novel ini Stepheni Meyer berhasil mengobrak abrik emosi pembaca dengan latar cerita bangsa manusia, serigala dan vampir. Anda akan menemukan adegan romantis, permusuhan, perang dan konspirasi dalam novel ini.

Sebelum kamu membaca terlalu jauh, Admin kembali mengingatkan bahwa membaca novel jangan dijadikan sebagai kegiatan utama. Ibadah, kerja, belajar dan berbakti kepada orang tua tetaplah hal yang harus diutamakan.

Ok, Silahkan baca novel Twilight Bab 13 yang dipersembahkan oleh Admin white novel. Semoga bisa memberi hiburan, insipirasi dan solusi bagi setiap masalah yang kamu hadapi.

Baca Novel Twilight –Fenomena Bab 13

3. FENOMENA

KETIKA paginya aku membuka mata, ada sesuatu yang berbeda.

Ada cahaya. Masih cahaya hijau kelabu khas hari mendung di hutan, tapi bagaimanapun juga lebih cerah. Aku menyadari tak ada kabut menyelubungi jendelaku. Aku melompat dari tempat tidur untuk melihat ke luar, lalu mengerang ngeri.

Lapisan salju yang sempurna menutupi halaman, melapisi atap trukku, dan membuat jalanan jadi putih. Tapi bukan itu bagian terburuknya. Hujan yang turun kemarin telah membeku—melapisi pepohonan membentuk jarum dalam pola sangat indah, dan menjadikan jalan setapak licin dan berbahaya. Aku sendiri sudah cukup kerepotan agar tidak terpeleset saat jalanan kering; jadi mungkin lebih aman kalau aku tidur lagi sekarang.

Novel Twilight


Charlie sudah berangkat sebelum aku turun. Dilihat dan berbagai sisi, hidup bersama Charlie bagaikan hidup sendi dan aku mendapati diriku sendiri bersorak-sorai dan bukan nya kesepian.

Aku sarapan semangkuk sereal dan jus jeruk. Aku merasa bersemangat untuk pergi ke sekolah, dan ini membuatku takut. Aku tahu bukan lingkungan yang menstimulasiku untuk belajar yang membuatku bersemangat, ataupun bertemu teman-teman baruku.

Kalau mau jujur, semangatku pergi ke sekolah lebih karena akan bertemu Edward Cullen. Dan itu sangat, sangat bodoh. Aku seharusnya menghindari cowok itu setelah omonganku yang tidak cerdas dan memalukan kemarin.

Dan aku curiga padanya; kenapa ia harus berbohong tentang matanya? Aku masih takut dengan sifat permusuhan yang kadang-kadang terpancar dalam dirinya, dan aku masih tak sanggup bicara setiap kali melihat wajahnya yang sempurna. Aku sangat sadar kelompokku dan kelompoknya sama sekali tidak cocok. Jadi tak seharusnya aku kepingin bertemu dengannya hari ini.

Butuh konsentrasi penuh untuk bisa sampai dengan selamat ke truk. Aku nyaris kehilangan keseimbangan ketika akhirnya sampai di truk, tapi aku berhasil berpegangan di kaca spion dan menyelamatkan diriku. Jelas hari ini bakal jadi mimpi buruk

Sambil mengemudi ke sekolah, kualihkan ketakutanku

bakal terjatuh dan spekulasi yang bukan-bukan tentang Edward Cullen, dengan memikirkan Mike dan Eric, dan betapa berbedanya sikap cowok-cowok terhadapku di sini. Aku yakin aku tampak sama persis seperti ketika di Phoenix – barangkali cowok-cowok di tempat asalku telah menyaksikan aku perlahan-lahan melewati semua tahap kedewasaan yang membuat canggung dan masih memandangku dengan cara itu.

Mungkin karena aku masih baru di sini, tempat sesuatu yang baru jarang-jarang ada. Mungkin kecanggunganku dianggap menarik dan bukan menyedihkan, membuatku kelihatan seperti cewek yang sedang kesusahan. Apa pun alasannya, sikap Mike yang seperti anak anjing dan sikap Eric yang bersaing dengannya sangat mengganggu. Aku tak yakin apakah aku tidak akan memilih diabaikan saja.

Trukku sepertinya tidak masalah dengan es yang melapisi jalanan. Meski begitu, aku mengemudi sangat pelan, tak ingin tergelincir.

Ketika turun dari truk sesampainya di sekolah, aku tahu kenapa aku nyaris tidak mendapat masalah. Aku melihat sesuatu berwarna perak, dan aku berjalan ke bagian belakang truk—dengan hati-hati berpegangan pada sisi truk untuk menjaga keseimbangan—dan memeriksa banku. Ada rantai tipis saling berkaitan membentuk intan di sekelilingnya. Charlie telah bangun entah sepagi apa untuk mengikatkan rantai salju di trukku. Tenggorokanku tiba-tiba tercekat. Aku tak terbiasa diurus, dan perhatian Charlie yang diam-diam ini mengejutkanku.

Aku sedang berdiri di pojok belakang truk, berjuang melawan gelombang emosi mendadak yang ditimbulkan rantai salju itu, ketika mendengar suara aneh. Itu suara lengkingan tinggi, yang segera berubah sangat keras hingga menyakitkan telinga. Aku mendongak

benarbenar terkejut.

Aku melihat beberapa hal bersamaan. Tidak ada yang bergerak lambat seperti di film-film. Sebaliknya semburan adrenalin sepertinya membuat otakku bekerja lebih cepat, dan dengan jelas aku menyerap detail beberapa hal secara serentak.

Edward Cullen berdiri empat mobil dariku, memandangku ngeri. Wajahnya tampak mencolok di antara lautan wajah di sana, semua membeku dengan ekspresi terkejut yang sama. Tapi yang lebih mengerikan adalah van biru gelap yang meluncur, bannya terkunci dan mengerem hingga berdecit, berputar-putar tak terkendali di lapangan parkir yang tertutup es. Mobil itu nyaris menabrak bagian belakang trukku, dan aku berdiri di antara keduanya. Aku bahkan tak sempat memejamkan mata.

Persis sebelum aku mendengar bunyi tabrakan keras van di badan truk, sesuatu menerjangku, keras, tapi bukan dari arah yang semula kuduga. Kepalaku membentur aspal yang tertutup es, dan aku merasakan sesuatu yang padat dan dingin menindihku ke tanah.

Aku terbaring di trotoar di belakang mobil cokelat yang terparkir di sebelah truk. Tapi aku tak sempat memerhatikan yang lainnya, karena van itu masih meluncur mendekat. Mobil itu berputar-putar mengerikan di dekat belakang truk, masih berputar dan meluncur, nyaris menabrakku lagu

Suara mengumpat pelan membuatku sadar ada seseorang bersamaku, dan tak mungkin aku tidak mengenali suara itu. Sepasang tangan putih yang panjang terulur melindungiku, dan van itu bergetar hingga berhenti hanya sejengkal dari wajahku, tangan-tangan besar itu untungnya pas dengan rongga badan van.

Lalu tangan-tangannya bergerak sangat cepat hingga tampak samar. Yang satu tiba-tiba mencengkeram bagian bawah van, dan sesuatu menarikku, mengayun-ayunkan kakiku seakan-akan aku boneka mainan, sampai kakiku menabrak ban mobil cokelat itu.

Suara gemuruh besi beradu memekakkan telinga, dan van itu berhenti, lalu terdengar suara gelas pecah, berhamburan ke jalanan—tepat di tempat kakiku berada satu detik sebelumnya.

Penutup Novel Twilight – Fenomena Bab 13

Gimana Novel twilight – Fenomena Bab 13 ? keren kan ceritanya. Tentunya kamu penasaran apa yang akan terjadi di bab berikutnya. Jangan khawatir kami telah menyiapkannya. Silahkan baca bab berikutnya dengan mengklik tombol nvaigasi bab di bawah ini.

 

 

Selanjutnya
Sebelumnya