Sunday, January 16, 2022

Bab 12 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab  12

Baca Novel Elena Bab  12 Di Sini Sekarang

“Siapa lelaki itu?” Elena terdiam. Mukanya pucat pasi. “Sebegitu cintanyakah kau padanya sampai-sampai tak mau mengatakan siapa dia demi melindunginya?” “Bukan, bukan begitu. Maksudku ...”

“Siapa?” “Masa lalu, Mas. Menyebut namanya cuma akan menggores luka lamaku.”

“Jadi cuma kau saja yang berhak terluka? Luka masa lalumu itu meninggalkan jejak sampai ke masa depan yang aku harus hidup dengannya setiap hari. Dan itu bisa membuatku gila!”

novel elena


Elena meraih jemari tangan kanan Ibnu, terlihat luka-luka yang belum mengering. Diciuminya dengan berlinangan air mata. Hatinya gentar, Ibnu bisa dibilang tak pernah marah dankiniia harus menghadapi kemurkaannya.

“Ampuni aku, Mas. Aku salah. Aku khilaf. Aku menyesal. Aku sudah benar benar bertobat hanya saja dulu aku malu mengakuinya. Aku takut ... aku takut kau meninggalkanku.”

“Lalu kau pikir sekarang aku tak akan meninggalkanmu?” Elena tersentak.

Dijatuhkan dirinya bersimpuh memeluk kedua kaki Ibnu. Menangis tersedu-sedu. Ibnu bergeming. Tangannya terkepal, gemeletuk giginya beradu. Setengah mati menahan amarahnya. Ia beristighfar lalu duduk di sisi tempat tidur Maryam, Elena masih menggelayuti kakinya.

“Kapan?” Ibnu kembali bertanya singkat.

Elena tak kuasa menjawab, napasnya tersengal tersedu-sedan.

“Apa malam itu waktu kau tak pulang?” Elena mengangguk perlahan, makin erat memeluk kaki Ibnu.

Seandainya sujud di kakinya bisa meredakan murkanya, pasti akan ia lakukan. Ia sungguh-sungguh tak ingin kehilangan pintu surga terdekat yang bisa diraihnya. Untuk beberapa menit lamanya Ibnu terdiam, mukanya masih merah padam. Sampai akhirnya terdengar suara pintu diketuk. Elena buru-buru menyusut airmatanya.

“Cuci mukamu,” titah Ibnu seraya bangkit meninggalkan Elena yang masih terduduk di lantai.

 “Assalamualaikum ...........”

“Waalaikumsalam. Papa, Mama, silakan masuk. Naik kereta jam berapa dari Bandung? Kenapa tidak berkabar? Biar kami jemput di stasiun.”

“Ah tidak usah, kalian pasti repot. Lagipula banyak taksi online sekarang, hahaha.”

“Mana Elena? Mana cucuku?” tak sabar mama mertua Ibnu hendak beranjak masuk ke dalam kamar.

Elena keluar dengan mata sembab, basuhan air dingin di wajahnya tak bisa menutupi kesedihannya. Dihampiri orangtuanya, dicium tangan keduanya dengan takzim.

“Kau menangis, Elena? Ada apa? Apa kalian baik-baik saja? Cucuku sehat kan?” cecar Mama.

“Aku cuma terharu dan agak letih, Ma.” Elena masuk kamar kemudian keluarlagi menggendong bayi mungilnya, mahluk kecil itu menggeliat.

Mama dan Papa memperhatikannya dengan gemas. Elena berharap si kecil sementara terus terlelap. Ia tidak bisa membayangkan menerima lebih dari satu kemarahan dalam satu hari Elena pasrah saat Mama mengambil alih dari gendongannya.

Mama menciuminya bertubi-tubi hingga bayi dalam gendongan itu terbangun dan membuka matanya. Seketika kedua orangtua Elena terbelalak melihat bola mata bayi itu berwarna coklat kebiruan. Elena buru-buru mengambil bayinya.

“Anak siapa itu Elena!” tanya Mama dengan suara keras. Elena ciut.

“Jadi kau berselingkuh, masih dengan lelaki bule itu hah! Dasar anak tak tahu diri!” Papa hampir melayangkan telapak tangannya ke arah Elena.

Ibnu maju, melindungi Elena di belakangnya punggungnya.

“Sabar, Pah. Kalau ada yang boleh memukul Elena saat ini, maka sayalah yang paling berhak melakukannya.” Ibnu berkata tegas.

“Kamu masih membelanya setelah apa yang dia lakukan padamu? Tak terpikirkah olehmu bagaimana kelak orang-orang menjadikan kalian bahan perbincangan. Ini aib!”

“Saya tidak membelanya. Tapi Elena istri saya dan saya tidak akan membiarkan kekerasan fisik untuk memberinya pelajaran. Biarkan saja orang-orang dengan prasangkanya. Lebih baik Mama dan Papa beristirahat saja dulu di kamar Maryam.”

“Tidak. Kami mau langsung pulang saja. Ayo, Ma.” Papa membalikkan badan keluar rumah diikuti Mama yang mulai terisak. “Biar saya antar, Pah.”

“Tidak usah. Kau urus saja istrimu itu.”

“Maafkan Elena, Pa, Ma.” Elena mengejar keduanya sambil menyodorkan tangan namun ditolak.

Hati Elena semakin hancur. Ia menangis tersedu. Kedua orangtua Elena berlalu dengan menahan kemarahan.

“Kau menyakiti hati banyak orang, Elena.” ujar Ibnu dengan pandangan mata tajam menghujam ke jantung Elena.

“Maafkan aku ...” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Elena yang bergetar menahan tangis.

“Aku butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri. Begitu juga kau. Aku akan mengantarkanmu besok ke rumah Abah dan Ummi. Tinggalah di sana untuk beberapa waktu, bersama Maryam.”

Sebenarnya Elena tak ingin jauh-jauh dari Ibnu tapi tak ada yang bisa dilakukan selain mematuhi suaminya saat ini. Ia hanya bisa mengangguk. Ibnu meninggalkan Elena yang terpaku di tempatnya, masuk ke kamar Maryam dan menutup pintu.

Abah dan Ummi Izza menyambut kedatangan mereka bertiga. Maryam melompat-lompat kegirangan melihat Ibnu, Elena dan adik bayinya datang.

“Abah, saya ijin menitipkan Elena dan anak-anak di sini boleh?”

“Kau mau ke mana, Nak?” tanya Ummi Izza lembut.

“Tidak ke mana-mana, Ummi. Hanya beberapa hari ke depan saya sibuk dan bisa jadi pulang malam terus. Kasihan Elena.” terang Ibnu, ia tidak berbohong.

Ia memang sibuk dan kesibukan menolongnya untuk memberikan jarak antara ia dan Elena untuk sementara waktu.

“Baiklah. Tentu boleh. Oya siapa nama anak ini? Rencananya kapan akikah? Biar kami bantu pelaksanaanya.” kata Abah.

“Dalam pekan ini juga boleh. Nanti saya titipkan ke Elena sejumlah uang untuk persiapannya, tolong dibantu ya Abah dan Ummi.” “Alhamdulillaah. Jadi siapa namanya?”

“Biar Elena yang memberi nama,” sahut Ibnu melirik ke arah Elena.

“Namanya Al ... Al Fatih,” jawab Elena yang sejak pertama datang hanya terdiam menunduk.

“Masyaa Allah, nama yang bagus sekali.” ujar Abah Abdullah.

“Permisi Abah, Ummi, kepalaku sedikit sakit. Aku ijin masuk kamar untuk rebahan,” kata Elena perlahan.

“Ya ya ya, istirahatlah. Abah mau mengajak Ibnu ke masjid untuk sholat berjamaah. Sekalian mengobrol.”

“Aku ikut Ibu,” sela Maryam. Ummi Izza bangkit mengantar Elena, Al dan Maryam ke kamar yang dulu ditempati Safitri. Ibnu mengekor sambil kedua tangan kekarnya membawa dua buah koper berisi pakaian dalam sekali angkut. Menaruhnya di kamar lalu bergegas keluar lagi tanpa sepatah katapun.

Elena membaringkan bayinya di tempat tidur, membiarkan Maryam bermain di sebelah Al.

“Ada apa, Elena?” tanya Ummi Izza lembut.

“Aku harusnya dihukum rajam sampai mati, Ummi!” Elena menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ummi, terisak.

Ummi menghela napas panjang lalu diusap-usapnya kepala Elena.

“Apa dengan lelaki itu? Orang asing yang Safitri pernah ceritakan pada Ummi?” Elena mengangguk.

 “Allah melarang manusia untuk mendekati zina, Elena. Dekat-dekat saja tidak boleh. Karena mendekati saja sudah banyak potensi untuk terjerumus di dalamnya. Dan kalau sudah masuk perangkap syetan maka kerusakan demi kerusakan akan terjadi. Zina itu tipu daya syetan menyesatkan manusia dari pernikahan yang halal.”

“Aku menyesal, Ummi. Aku sudah bertobat pada Allah. Aku sudah memohon ampun pada Ibnu. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.”

“Tidak ada jalan hijrah yang mudah, harga surga tidaklah murah. Allah sedang menguji kejujuran tobatmu maka bersabarlah. Allah yang memberi ujian, Allah yang memegang kunci jawaban. Ujiannya berbeda-beda sesuai tingkatan. Allah tidakmemintakita untukmenemukan jalan keluar dari setiap masalah, Allah cuma suruh kita sholat dan tetap sabar dalam ketaatan nanti Allah yang akan menunjukkan kita pada jalan keluar yang tidak disangka-sangka. Bersabarlah, berdoalah minta pertolongan Allah.” nasehat Ummi Izza panjang. Elena mengangguk pasrah.

Dihapusnya airmatanya. Ia harus tetap tegar demi Al. Ibnu berjalan perlahan mengiringi langkah Abah ke arah masjid. Adzan Dzhuhur masih setengah jam lagi.

“Ada masalah apa, Nak Ibnu?” tanya Abah.

“Al bukan anakku, Abah ...” Ibnu menjawab pelan sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Abah menghela napas berat, “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Ini terlalu berat untuk kutanggung. Aku ...” Abah menghentikan langkahnya.

Menatap Ibnu mencari jawaban yang jujur. “Apakah kau akan menceraikan Elena?”


Kesimpulan Novel Elena Bab  12

Bagaiman Bab  12 nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya