Friday, January 14, 2022

Bab 10 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab  10

Baca Novel Elena Bab  10 Di Sini Sekarang

“Safitri dulu pun seperti ini ketika minggu-minggu pertama mengandung Maryam ...”

Ibnu berujar hati-hati. Elena kaget setengah mati mendengar perkataan Ibnu. Ia tidak pernah terpikir sampai ke sana. Mungkinkah? Dua garis merah, positif.

Elena menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi, gelisah. Bayangan malam itu bersama Eugene menghantuinya.

Meskipun ia juga telah melalui banyak malam dengan Ibnu namun bagaimana jika janin yang di rahimnya ini adalah ... tubuh Elena melorot sampai pada posisi jongkok, ia tak kuasa membayangkannya. Ketika Ibnu mengetahui kehamilan Elena dan kondisi Elena yang terus terusan muntah, ia memutuskan Elena harus berhenti bekerja dan beristirahat di rumah.

novel elena


Elena langsung menyetujuinya, selama ini pun ia merasa was-was setiap hari khawatir Eugene nekad tiba-tiba mendatanginya di kantor setelah tidak pernah berhasil menghubunginya.

Trimester pertama yang sangat berat untuk Elena, bukan hanya karena mual muntah serta hilangnya nafsu makan tapi juga karena beban pikiran. Sikap Ibnu yang semakin perhatian menambah perasaan bersalah Elena namun ia tak berani mengakui dosa-dosanya.

Kegelisahan Elena mengantarkannya lebih dekat kepada Rabb-nya. Ia belajar memperbaiki sholatnya. Mulai belajar membaca Al Quran dari mengeja alif ba ta.

Ibnu membimbingnya menghapal surat surat pendek setiap malam sambil terus mengelus perut Elena. Seringkali Ibnu menemukan Elena terjaga di sepertiga malam, mendirikan sholat dan terisak di hamparan sajadahnya.

Ibnu melihat metamorfosa Elena sebagai bentuk tobat yang jujur. Apalagi setelah rutin menghadiri majelis ilmu, ahlak dan kepribadian Elena berubah menjadi lebih indah. Ia juga semakin dekat dengan Maryam. Bukan hanya itu, Elena sekarang sudah nyaman mengenakan gamis dan kerudung yang menutup dada dan bagian belakangnya.

Bahkan selalu berkaos kaki keluar rumah, meski hanya ke warung tetangga. Safitri benar, Ibnu mulai jatuh cinta pada sosok Elena. Hanya saja ada satu hal yang mengganggu pikiran Ibnu, sejak menyadari kehamilannya Elena berubah menjadi lebih pendiam dan sering terlihat murung. Setiap kali ditanya, ia selalu menjawab bahwa semua baik-baik saja.

Tapi ia tahu, Elena menyembunyikan sesuatu. Elena sedang duduk di teras depan rumahnya, menikmati sore berdua dengan Maryam. Bercengkrama sambil menikmati coklat hangat dan roti bakar buatan Elena.

“Maukah kau ceritakan tentang ummi?” tanya Elena pada Maryam.

“Tentu saja,” jawabnya sumringah.

“Ummi selalu menyempatkan waktu berdua bersamaku, seperti kita sekarang ini. Sambil menyisir rambuku, ia akan memberi nasehat panjaaaaaaaaaaaaang sekali. Tapi aku tak pernah bosan mendengarnya.”

“Oh ya? Nasehat apa yang paling sering ummi sampaikan?”

“Ya kata ummi, perempuan itu cuma punya dua pilihan. Menjadi sebaik-baik perhiasan atau seburuk-buruk fitnah,” ujar Maryam sambil memainkan ujung kerudung Elena.

 “Memangnya kau mengerti maksud nasehat ummi tadi?” tanya Elena penasaran.

“Awalnya tidak tapi kemudian ummi menjelaskan bahwa Islam sudah mengangkat kemuliaan perempuan jadi jangan malah merusaknya sendiri. Ummi mengatakan bahwa wanita itu istimewa dan cantik karena Islam mewajibkannya untuk menutup auratnya agar terjaga, menjadi perhiasan terbaik. Jika tidak menutup aurat hanya akan merugikan diri sendiri dan menjadi ujian bagi orang lain,”

kata Maryam Panjang. 'Masyaa Allah... gadis sekecil ini sudah mengerti batasan aurat, padahal baru mulai belajar taat', keluh Elena malu.

"Apakah kamu mencintai Ummi?" Elena bertanya lagi.

"Sayaaaaaaang." "Apakah kamu mencintaiku?" Maryam memeluk

"Sayaaaaang," Elena.

"Baiklah, apakah kamu ingin mengajar padaku apa-apa saja yang Ummi, apakah Anda punya saran untuk saya? ” Maryam mengangguk antusias. Elena mencium kepala Mary,

 "Terima kasih." Di tengah malam, Elena terbangun, merasa basah di bagian bawah perutnya sebelum akhirnya sakit maag memuncak.

Yang mengejutkannya, sepertinya cairan ketuban telah pecah sehingga membasahi tempat tidurnya.

“Mas…” Elena menyentuh pipi Ibn dan membangunkannya, masih berusaha tenang.

 Suami tipe Ibn waspada, sekali usapan lembut telah membuatnya terjaga.

“Ya ya, apa sudah waktunya? Ya Allah, air ketubannya sudah pecah, Elena!”

seru Ibnu mulai panik. Elena mengangguk lemah, dahinya berpeluh menahan rasa mulas yang datang dan pergi yang semakin sering. Dengan sigap diraihnya tas berisikan perlengkapan melahirkan yang sudah siap sedia di dekat tempat tidur. Lalu ia membopong Elena hati-hati masuk ke dalam mobil. Ibnu kembali lagi ke rumah, kali ini ia keluar menggendong Maryam yang masih tertidur dan meletakkannya di bangku tengah.

 “Sabar ya, tahan ... istighfar yang banyak,” Ibnu mengucapkan itu berkali kali.

Satu tangannya menyetir mobil sedang satu tangan lainnya memegang gawai berusaha menghubungi seseorang.

“Assalamualaikum, Abah? Ini aku, Ibnu. Elena sudah waktunya melahirkan, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.

Bisakah Abah dan Ummi menjemput Maryam dan menemaninya sementara waktu? Baik, baik.

Terima kasih banyak. Assalamualaikum,” Ibnu menutup pembicaraannya dan memasukkan gawainya ke saku kemejanya.

“Siapa yang kau telepon?” tanya Elena lemah.

“Abah,” jawab Ibnu singkat.

Melajukan mobilnya lebih cepat. Elena mengerang, sebelah tangan Ibnu sigap meraih tangan Elena dan menggenggamnya seolah ingin mentransfer sebagian kekuatan untuknya. Elena meremas jemari Ibnu setiap kontraksi itu datang.

Tiba di rumah sakit, pegawai medis dengan sigap menyambut Elena. Hanya selang beberapa menit kemudian, abah dan ummi datang tergopoh-gopoh. Ibnu langsung mengoper Maryam ke dalam gendongan Abah.

Matanya memohon restu kepada kedua orang itu, abah menepuk-nepuk pundak Ibnu. Setengah berlari ia menyusul Elena ke kamar bersalin, seorang perawat menahannya di pintu tapi kemudian memperbolehkannya masuk. Sepanjang proses persalinan, Ibnu menggenggam tangan Elena menguatkannya. Diingatkannya Elena untuk terus menyebut asma Allah.

Sesekali diusapnya keringat bercampur airmata di wajah Elena dengan penuh kasih. Tepat adzan shubuh, setelah berjuang berjam-jam akhirnya Elena melahirkan seorang bayi laki-laki. Ibnu mengucap syukur dan tak kuasa membendung buliran bening dari matanya.

Dihujaninya Elena dengan kecupan di kepalanya dan ucapan terima kasih. Elena ikut menangis terharu. Seorang suster menyodorkan bayi merah yang terbungkus selimut kepada Ibnu. Bayi itu menangis keras dengan mata terpejam. Dengan hati-hati Ibnu menerimanya, menciumnya kemudian memperdengarkan adzan di telinganya.

Ia menimangnya perlahan dan membisikkan doa-doa. Tangis bayi di pelukannya sedikit demi sedikit mereda, seperti menikmati suara merdu Ibnu. Kemudian matanya terbuka dan sosok Ibnu yang pertama kali dilihatnya. Ibnu memperhatikan sosok mungil itu sambil tersenyum, kulitnya putih bersih, pipinya bulat, badannya montok, hidungnya mancung. Senyum Ibnu berangsur surut ketika ia melihat bola matanya ... coklat kebiruan.

Kesimpulan Novel Elena Bab  10

Bagaiman Bab 10 nya, saya yakin novel Elena ini akan membawamu ke dalam imajinasi untuk berusaha menebak lanjutan kisahnya bukan? Jangan khawatir kami punya jawabannya di bab berikutnya. Silahkan klik navigasi Babnya di bawah ini untuk pindah ke Bab berikutnya.

Selanjutnya
Sebelumnya