Thursday, January 13, 2022

Bab 1 Novel Elena - Baca Gratis Di Sini

Novel Elena ditulis oleh Ellya Ningsih, Banyak yang berharap penulis novel ini akan menjadi the next  Tere Lie. Novel Elena juga memiliki versi cetak yang lengkap. Anda bisa memesannya di nomor Wa : 085703404372 atau 088218909378.

Oh iya membaca novel hanyalah sekedar hiburan atau hobi atau bahkan pengisi waktu luang saja. Untuk itu admin blog ini selalu mengingatkan tetaplah nomor satukan Ibadah, Perintah orang tua dan pekerjaan.

Novel Elena ini ditulis dengan bahasa yang ringan namun bisa mengobrak abrik emosi pembaca. Tak salah jika novel ini menjadi viral dan selalu ditunggu bab perbab nya oleh pembaca. Ok Sekarang silahkan baca Novel Elena Bab 1

Baca Novel Elena Bab 1 Di Sini Sekarang

“Mbak, maaf. Dompet saya ketinggalan di rumah berikut isinya. Apa bisa saya meninggalkan sesuatu untuk jaminan? Insyaa Allaah segera saya balik lagi menebusnya.” ujarnya pelan pada kasir.

“Aduh, gimana ya Bu. Saya takut salah. Sebentar saya panggil manajer toko saja ya.” jawab perempuan muda bermake-up tebal yang menjadikannya malah terlihat lebih tua.

“I’ll pay! (Aku yang bayar!)” sahut seseorang dari arah pintu masuk mini market.

Mereka berdua serentak menoleh ke pintu masuk dan demi melihat sosok itu seketika Elena merasakan tubuhnya lemas seolah tulangnya diloloskan satu-satu.

Eugene ... lelaki tampan dengan sorot mata tajam, tinggi tegap dengan dada bidang. Ia pernah mengisi hati dan hidup Elena belasan tahun yang lalu.

Novel Elena

“How much (Berapa)?” lelaki berkebangsaan asing yang tidak asing bagi Elena itu sudah berdiri di sebelahnya. Harum tubuhnya yang khas dan masih dihapalnya membuat Elena makin terpaku kaku di tempatnya tanpa kata-kata. “Dua belas ribu lima ratus, mister.” jawab kasir sambil senyum-senyum menggoda.

“Here’s twenty. (Ini dua puluh ribu.)” Eugene menyodorkan selembar dua puluh ribuan. “Kembaliannya, mister.” kata kasir masih terus tersenyum gatal. “Take it. (Ambil saja.)” sahut Eugene padakasir sambil memasukkan dompetnya ke dalam tas selempangnya. Diliriknya Elena yang menatap lekat Al, tak berani menatapnya.

Eugene menghampiri Al, ikut jongkok di sebelahnya. Jantung Elena berdegup lebih kencang, tangannya gemetar. Ia seperti melihat dua lelaki yang sangat mirip hanya beda ukuran.

“Hello top guy. What’s your name? (Halo jagoan. Siapa namamu?)” Eugene menepuk pundak Al hangat. Al menoleh ke arahku, matanya bertanya-tanya. “Om itu menanyakan namamu, Nak.” terang Elena pada Al dengan suara pelan dan serak. “Al Fatih, Om ...” Al menjawab sumringah, dia selalu senang jika ada yang menyapanya ramah.

“What a great name, your mom must be proud of you! (Nama yang bagus, ibumu pasti bangga padamu!)” Eugene mengacak rambut Al, mereka berdua tertawa kecil seolah sudah lama akrab. Elena berhasil mencairkan kebekuan kakinya, lalu beranjak menyingkir dari depan kasir. Eugene ikut bergeming, ia berdiri sambil menggandeng tangan kiri Al kemudian berjalan ke arah meja bulat yang dikelilingi kursi-kursi plastik. “Sit, please. (Duduklah.)” Eugene menatap Elena sambil menarik sebuah kursi. Elena menurutinya.

Eugene lalu mendudukkan Al diantara mereka berdua. Memesan dua cangkir kopi, lalu terdiam sesaat mengamati Al yang hampir menghabiskan es krimnya dengan mulut belepotan. “What’s up, Elena? (Apa di atas, baca: Apa kabar, Elena?)” sapa Eugene membuka percakapan. “Sky is up (Langit yang di atas).” jawab Elena datar.

Eugene tertawa kecil mendengarnya. “What in earth are you doing here? (Apa yang kau lakukan di sini?)” Elena akhirnya membuka lebih suara itu masih penuh cinta, kehangatan dan harapan, ia hampir saja menangis tapi harga dirinya berhasil menguatkan.

“I’ve been looking for you for almost seven years, Elena! (Aku mencarimu hampir tujuh tahun, Elena!)” suaranya sedikit meninggi. “DoIlook like I care?!? (Memangnya aku peduli?)” jawab Elena sekenanya. “Yes, you do! (Ya, pasti!)” Eugene seperti meyakinkan dirinya sendiri. “Well, look again! (Lihat lagi, baca: Kalau begitu kau salah)” Elena balik menatap Eugene dengan tatapan yang disetel tidak peduli walaupun hatinya terasa gerimis.

“Please, Elena. Talk to me. Why??? (Katakan padaku, Elena. Kenapa? Aku mohon)” Eugene mengulurkan tangannya hampir menyentuh jari-jemari Elena yang saling menggenggam gelisah tapi kemudian tersadar dan segera menariknya kembali.

Ia menghargai pakaian yang dikenakan perempuan mungil di hadapannya. “Ibu, aku sudah selesai!” teriak Al lantang memotong perkataan Eugene, sambil tertawa mempertunjukkan tangan dan mulutnya yang belepotan es krim.

Elena tersenyum tipis. Eugene tertawa kecil, dengan sigap dikeluarkannya sapu tangan dari kantong celananya lalu membersihkan kedua tangan dan mulut Al.

“Listen to me top guy. I know you wanna play outside soon but i need you to stay with us for minutes so i can talk to your mom. Because mommy will be little bit comfortable talking in a crowd like this. Do you like to draw? Here’s my book and my pen, you can draw what vehicles you like. (Dengarkan aku jagoan. Aku tau kau tidak sabar main di luar tapi aku membutuhkanmu di sini supaya aku bisa berbicara dengan ibumu sebentar. Ibumu sedikit lebih nyaman bicara di keramaian sepertiini. Kau suka menggambar? Ini buku dan pena milikku, kau bisa menggambar kendaraan yang kau suka” Eugene bicara panjang lebar seolah Al bakal mengerti ucapannya.

Sementara Al terkekeh-kekeh, anak kecil itu geli mendengar aksen dan bahasa Eugene yang biasanya hanya ia tau lewat acara tivi ‘Hi Five’. “Al boleh gambar kereta diesel di sini?” Ia menunjuk buku yg disodorkan Eugene sambil melihat Elena meminta persetujuan. “Iya sayang, menggambarlah di situ.”  sahut Elena lembut sambil tersenyum.

Seorang pelayan wanita datang mengantarkan pesanan. Harum kopinya menenangkan, Elena menghirup dalam dalam aromanya. Ia merasa kewarasannya setengah terselamatkan. “Elena, why are you hiding from me? (Elena, kenapa kau menghindar dariku?)” “You know why ... I’m married, i have kids. And you’re such a bad influence on me. (Kau tau kenapa ... Aku sudah menikah dan mempunyai anak-anak. Lagipula kau membawa pengaruh buruk buatku”

“You have married too seven years ago but you still want to meet me. We’re even ... (Kau pun sudah menikah tujuh tahun lalu tapi kau masih bersedia menemuiku. Bahkan kita ...” “Stop it. It’s a big mistake!!! (Hentikan. Dulu itu kesalahan besar!!!)” “Calm down, Elena ... i’m here not to argue. I miss you ... (Tenanglah, Elena Aku di sini bukan untuk berdebat. Aku rindu padamu ...” Elena hampir terisak, mukanya memerah matanya berair napasnya tersengal.

Ia ingin segera berlalu dari momen ini. “I am not the same person. I have changed. And I am fully happy for I am now. Don’t ruin my happiness. I want you to stay away from my life ... please ... (Aku bukanlah orang yang sama. Aku sudah berubah. Dan aku sangat bahagia dengan keadaanku sekarang. Jangan mengusik kebahagiaanku. Menjauhlah dari kehidupanku ... Aku mohon ....)”

“I’ll wait ... (Aku akan menunggu ...)” “Don’t wait. You have to move on. Get married, have a bunch of kids like you want it. Be happy ... (Jangan menunggu. Kau harus melanjutkan hidupmu. Menikahlah. Miliki banyak anak seperti yang kau mau. Berbahagialah ...)”

“I can’t find someone like you. (Aku tidak bisa menemukan penggantimu.)” “That’s a sweet bullshit I ever heard in my age! (Itu omong kosong termanis yang pernah kudengar di usiaku!)” Elena tertawa sinis.

Ia meneguk habis kopinya yang hampir dingin. “Talking about age. How old is he? (Ngomong-ngomong soal usia. Berapa umurnya?)” Eugene menoleh ke Al. “Hampir ketujuh. (Hampir tujuh tahun)” jawab Elena singkat.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. (Saya ingin menunjukkan sesuatu kepada Anda) ” Eugene mengeluarkan dompetnya. Di sodorkannya secarik kertas foto ukuran kecil. Elena memperhatikan dua sosok lakilaki di foto itu. “That’s my dad. And the little one was me. (Itu ayahku. Dan anak kecil itu adalah aku.)” Elena terkesiap, ia hampir-hampir saja mengira anak kecil itu Al. “Is Al my son? (Apakah Al anakku?)” pertanyaan itu seperti belati yang menghunus tepat di jantung Elena. “Of course he’s not! (Tentu saja bukan!)” Elena setengah berteriak.

Ia bangkit dari duduk dan menggandeng Al keluar dari tempat itu. “Elena! Elena! Elena please wait! (Elena! Elena! Elena tunggu kumohon!)” Elena masih bisa melihat dengan ekor matanya betapa lelaki itu bersegera mengeluarkan uang dari dompetnya, menaruhnya di meja dan berusaha mengejarnya. Terlambat. Elena sudah masuk ke dalam taksi dan berlalu pergi.

Baca Bab Berikutnya

Klik navigasi bab di bawah untuk baca bab berikutnya.

Selanjutnya
First